IHSG Dan Rupiah Anjlok, Sri Mulyani : Alaram Sudah Berbunyi Harus Hati – Hati Tanpa Panik.

JAKARTA || Infofurinnews.com – Mentri keuangan Sri Mulyani menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini masih lebih baik dibandingkan negara lain. dia menyebut ada negara yang indeks sahamnya anjlok sehingga 25% akibat tidak kepastian global usai penetapan tarif impor AS.

“Investor portfolio merespon negatif, hari ini pembukaan bursa sesi kedua di bawa 8%, 7,7%, kalau kita lihat banyak negara yang indeks sahamnya tanggal 8 April banyak koreksinya sangat dalam ada yang 14% beberapa ada yang mencapai 25%,” kata Sri Mulyani dalam acara saresehan ekonomi bersama presiden Republik Indonesia, Selasa (8/4/2025).

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemehan hingga menyentuh level Rp 17.000 per USD, namun Sri Mulyani meyakini bank Indonesia telah melakukan beberapa upayah hingga kini rupiah sudah meninggalkan level Rp 17.000, per USD.

Baca Juga :  Sorotan Tajam Terhadap THM di Berau: Ketegangan Antara Bisnis, Masyarakat, dan Moral

“Harga saham nilai tukar maupun ubligasi SBN seperti peer, karena shocknya terjadi ini bentuk respons yang harus terbiasa kita lihat namun tekanan di pasar keuangan yang tinggi sebetulnya bukan hal yang baru tapi ini menggambarkan alaram sudah berbunyi tapi kita harus berhati – hati tanpa panik,”tegasnya.

Untuk di ketahui IHSG di tutup di zona merah pada perdagangan pada sesi pertama, indeks turun 7,71 atau 502, 14 poin ke level 6.008.

Baca Juga :  APRI Kaltim Siap Kawal Aspirasi Penambang Rakyat dalam Audiensi Bersama Komisi XII DPR RI

Siang ini, total volume saham yang di perdagangkan sebanyak Rp 14, 28 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,57 triliun, dan di transaksikan sebanyak 888, 589 kali. adapun, sebanyak 672 saham, harga turun, 23 saham harga naik 93 saham lain hargany statgan.

Seluruh sektor anjlok dengan sektor teknologi terkoreksi 10,19% sektor energi turun 8,08%, sektor keuangan turun 5,33%, sektor kesehatan turun 7,26%, sektor infrastruktur turun 7,77%, sektor transportasi 7,09%, sektor bahan baku turun 11,01%, sektor industri turun 7,63%, sektor siklikal turun 8,49%, sektor properti turun 6,31%, dan sektor non siklikal turun 5,03%.(*)

Loading