INFOFURINNEWS.COM, BALIKKUKUP – Di tengah gema program bantuan sosial masif dari pemerintah pusat yang disalurkan ke setiap pelosok negeri, sebuah anomali gelap menyelimuti Kampung Balikkukup, Kabupaten Berau. Puluhan warga di sana hidup dalam kondisi memprihatinkan, terisolasi dari uluran tangan negara yang seharusnya menjadi hak mereka.
Yang lebih mencengangkan, dugaan kuat mengarah pada praktik nepotisme dan penyimpangan data di tingkat pemerintahan kampung sebagai biang keladi hilangnya bantuan krusial tersebut.
Kesenjangan sosial di Balikkukup mencapai titik kritis. Warga mengeluhkan ketidakmerataan penerimaan bantuan dasar, termasuk yang bersifat non-tunai maupun tunai.
Program bantuan yang seharusnya menjadi jaring pengaman, tampaknya hanya mampir di kantong segelintir orang.
Seorang warga yang enggan disebut namanya, demi keamanan, memberikan kesaksian tajam.
“Saya hanya pernah dapat bantuan beras sekali saja. Selebihnya tidak ada. Padahal kami sudah didata berulang kali oleh aparat kampung. Tapi yang dapat malah orang-orang tertentu, yang kami duga adalah orang dekat Kepala Kampung,” ungkapnya.
Janji manis dari pemerintah kampung seolah menjadi lagu lama yang tak pernah usai. Ketika didesak mengenai kepastian bantuan, jawaban yang diterima selalu sama: “Tahun depan.” Namun, tahun demi tahun berlalu, dan realitas di lapangan tetap suram.
Visual kondisi di Balikkukup menjadi bukti bisu atas kegagalan sistem. Rumah-rumah warga terlihat “jabuk,” miring, bahkan nyaris roboh, mencerminkan urgensi kebutuhan akan bantuan perumahan (seperti program RTLH/RST). Namun, perhatian yang dinanti tak kunjung datang.
Situasi ini mencapai tingkat ironi yang memilukan dalam kasus-kasus darurat:
Bantuan Kematian yang Menguap: Seorang warga mengungkapkan kesedihan mendalam, mengatakan bahwa ada beberapa orang yang meninggal di kampung BaliKukup pada tahun 2023 mereka yang tidak pernah menerima santunan, padahal bantuan untuk orang meninggal dari pemerintah jelas.
Korban Bencana diabaikan: Bahkan ketika musibah datangr umah warga terbakar mereka tetap tidak tersentuh bantuan, meski telah didata oleh Pemerintah Balikkukup.
Fenomena Balikkukup memicu pertanyaan mendasar yang wajib dijawab oleh otoritas terkait: Kemana sebenarnya aliran dana bantuan publik ini?
Program bantuan dari pemerintah pusat untuk masyarakat miskin dan rentan diluncurkan dengan volume besar ke berbagai daerah.
Data menunjukkan adanya berbagai skema seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), hingga Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.
Skandal serupa telah banyak terungkap di berbagai wilayah, di mana manipulasi data penerima dan praktik pungutan liar oleh oknum aparat desa menjadi modus operandi umum.
Kasus Balikkukup adalah cerminan dari potensi “kebocoran” dan penyalahgunaan wewenang di tingkat paling bawah sistem pemerintahan.
Hal ini bukan sekadar masalah administrasi yang buruk, melainkan indikasi kuat adanya dugaan korupsi kemanusiaan yang secara sistematis menghilangkan hak-hak dasar warga miskin.
Masyarakat Balikkukup, dan publik luas, menuntut audit menyeluruh dan transparan atas data penerima bantuan dan aliran dana di kampung tersebut.
![]()












