Majelangka, INFOFURINNEWA.COM, 16 Oktober 2025 – Di tengah gempuran modernisasi, sebuah desa di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, hari ini kembali menghelat upacara adat tahunan yang sakral, “Guar Bumi” (sebutan lain untuk Acra Guar Bumi Tahun 2025).
Acara ini bukan hanya sekadar ritual, melainkan manifestasi kuat dari komitmen masyarakat setempat dalam menjaga warisan leluhur dan menjaga keseimbangan ekologis.
Ribuan warga dari Desa Bongas Wetan, Kecamatan Sumberjaya, memadati area persawahan yang terletak dekat dengan kompleks pemakaman kuno Buyut Geunteng, lokasi sentral dari ritual ini.
Sejak pagi, suasana khidmat namun meriah telah menyelimuti desa, menandakan pentingnya acara ini bagi identitas komunal mereka.
Prosesi Guar Bumi tahun 2025 ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Bongas Wetan, Bapak Mamat Saripudin, beserta jajarannya.
Dalam sebuah demonstrasi dukungan yang luar biasa, seluruh lapisan masyarakat hadir, mulai dari orang tua hingga generasi muda.
Pentingnya acara ini juga ditekankan dengan kehadiran pejabat daerah. Turut hadir Camat Sumberjaya, Bapak Wahyu Sudianto, serta Ketua Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sumberjaya, para tokoh masyarakat, dan perwakilan lembaga adat.
Kehadiran multi-pihak ini menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan agenda bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat sipil.
“Masyarakat Bongas Wetan menunjukkan dukungan dan rasa senang yang luar biasa atas penyelenggaraan acara adat tahunan ini oleh Kepala Desa dan jajarannya,” ujar seorang sumber lokal kepada awak media.
Guar Bumi, yang secara harfiah berarti ‘menggali bumi’ atau ‘menghormati bumi’, merupakan upacara syukur atas hasil panen dan doa memohon kesuburan serta keselamatan untuk musim tanam berikutnya.
Bagi masyarakat agraris di wilayah ini, ritual ini adalah jembatan spiritual yang menghubungkan mereka dengan alam dan para leluhur.
Para warga yang ditemui media menyatakan harapan yang seragam dan mendalam. Mereka sangat berharap agar acara adat Guar Bumi dapat terus diselenggarakan setiap tahun.
Permintaan ini mencerminkan kebutuhan fundamental masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional sebagai panduan hidup di tengah perubahan zaman.
Acara Guar Bumi hari ini di Desa Bongas Wetan tidak hanya sukses sebagai sebuah ritual, tetapi juga sebagai sebuah pernyataan budaya: bahwa tradisi dan kearifan lokal tetap menjadi denyut nadi yang kuat di jantung pedesaan Indonesia.(Tim Media)
![]()












