Amarah Memuncak! Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur Kecam Keras Penghinaan di Media Sosial Terhadap Warga Berau

Berau, INFOFURINNEWS.COM – Masyarakat Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, bersama dua pilar sejarah dan budaya mereka, Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur, menyuarakan kecaman keras atas tindakan provokatif dan penghinaan yang dilontarkan oleh sebuah akun media sosial. Ujaran yang merendahkan harkat dan martabat suku serta hukum adat Berau ini tersebar luas melalui kolom komentar saat siaran langsung (live) di platform TikTok.

Peristiwa ini telah memicu gelombang kemarahan di seluruh lapisan masyarakat Berau, yang menuntut penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku.

Kontroversi bermula dari komentar yang ditulis oleh akun TikTok bernama “serdadu lama” dalam sebuah sesi siaran langsung.

Akun tersebut secara berulang kali melontarkan kata-kata yang tidak pantas dan merendahkan.

Dalam salah satu komentarnya, “serdadu lama” menulis:

“ku injak injak kau dulu Berau berai betai, memang kadang saja kau ini kesini kau Amun berani, dimana kau nak betemu, dimana ada Berau hukum adat dasar pali, Pali kau ini, memang dulu Berau Beta,i soalnya kuning, kuning kulit kratonnya Berau Beta,i, cada salahkah dulu Berau attu yang SDMnya Rendah, memang dulu Berau Pali Pali. Apalagi orang sambaliung, gunung tabur tambah Pali Pali.”

Bahkan, ketika ditanya posisinya oleh salah seorang warga Berau, akun tersebut kembali menimpali dengan nada menghina, menyebut suku Berau sebagai ‘Pali Pali’ (sebutan yang sangat merendahkan dalam konteks adat) dan mengaitkannya dengan klaim ‘SDM Rendah’.

Baca Juga :  AMDAL PT. Berau Coal Menjadi Sorotan Publik, Kadis DLHK Kabupaten Berau Bungkam!!!

Dua institusi adat dan budaya terpenting di Berau, Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur, yang merupakan pewaris sah dari Kerajaan Berau, bersatu mengeluarkan pernyataan sikap yang mengecam tindakan tersebut sebagai penghinaan serius terhadap martabat daerah.

Perwakilan Kesultanan Gunung Tabur menyatakan bahwa tindakan “serdadu lama” telah melukai perasaan seluruh warga Berau dan merupakan pelecehan terhadap warisan leluhur.

“Ini bukan hanya soal ucapan kasar, ini adalah serangan terhadap identitas kami, terhadap hukum adat dasar Pali yang ia sebut, yang mana itu adalah bagian sakral dari budaya kami. Kesultanan Gunung Tabur dengan tegas mengutuk penghinaan ini dan menuntut pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum,” Pungkas Adji Awang Idris Kesultanan Gunung Tabur.

Kesultanan Sambaliung menyoroti dampak dari ujaran kebencian ini yang telah membangkitkan amarah kolektif masyarakat.

Baca Juga :  MENTALITAS 'KUMUH' DI PUSAT LAYANAN: Kantor Kampung Pulau Balikukup Ciptakan Lubang Sampah, Merusak Citra Pembangunan Berau

Mereka menekankan bahwa penghinaan yang menyasar suku, ras, dan harkat martabat adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi.

“Kami, Kesultanan Sambaliung, merasa amarah yang sama dengan masyarakat. Penghinaan ini sudah melampaui batas etika dan norma. Kami minta kepada Bapak Kapolres Berau agar segera bertindak. Cari orang ini, usut tuntas, dan tindak tegas sesuai undang-undang yang berlaku, karena ini sudah masuk ranah penghinaan dan provokasi SARA,” Tegas Datu Amir 

Kesultanan Sambaliung, Kesultanan Gunung Tabur, dan seluruh masyarakat Berau kini menaruh harapan besar kepada aparat penegak hukum.

Mereka mendesak Kapolres Berau untuk menggunakan kewenangan penuh dalam melacak identitas di balik akun “serdadu lama” dan memproses hukumnya sesuai dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta pasal-pasal lain terkait ujaran kebencian dan penghinaan suku/ras.

Baca Juga :  Kejari Berau tindak Lanjuti Dugaan Penyimpangan Proyek Irigasi Di Tumbit Melayu.

Masyarakat meminta agar kasus ini menjadi pelajaran serius bahwa media sosial bukanlah ruang tanpa batas bagi tindakan intimidasi dan pelecehan terhadap identitas adat dan budaya lokal.(Tim Red)

Loading