Bau Amis Tata Kelola Logistik Dispora Berau, Rp961 Juta Cuma Jadi Pajangan

Berau, – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Berau kini berada di bawah mikroskop publik setelah terungkapnya tata kelola logistik yang carut-marut. Berdasarkan data Tahun Anggaran (TA) 2024, ditemukan saldo persediaan jumbo sebesar Rp961.659.992,00 yang tersimpan dalam kondisi memprihatinkan dan tidak memadai.

Pemeriksaan fisik di lapangan mengungkap realitas pahit di gudang penyimpanan Dispora. Komoditas terbesar dalam daftar persediaan tersebut adalah Bahan Kimia senilai Rp390,7 juta yang diperuntukkan bagi pengelolaan kolam renang.

Namun, bukannya menjadi aset fungsional, bahan-bahan tersebut ditemukan dalam kondisi kedaluwarsa dan sebagian besar telah hancur.

Rincian saldo persediaan yang menjadi polemik, Bahan Kimia 390.791.270,00, Persediaan untuk Diserahkan ke Masyarakat 521.543.742,00, Bahan Komputer & ATK 30.692.140,00, Lainnya (Perabot, Kertas, Alat Listrik) 18.632.840,00.

Investigasi lebih lanjut mengungkap adanya anomali manajemen. Teknisi kolam renang mengaku enggan menggunakan stok lama karena penurunan kualitas sebesar 5% per tahun dan lebih memilih menggunakan pengadaan baru.

Baca Juga :  PJI Kaltim Apresiasi Profesionalisme TNI-Polri dalam Pengamanan Aksi Massa di Samarinda

Ironisnya, penggunaan bahan kimia ini tidak tercatat secara administratif, menyebabkan tumpukan zat seperti soda ash hancur tak bersisa tanpa kejelasan volume fisik yang pasti.

Kondisi ini memicu reaksi keras dari Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Kaltim. Rahman Ali. Mereka menilai hal ini bukan sekedar kelalaian administratif, melainkan indikasi pemborosan anggaran yang sistematis.

“Kami melihat ada pembiaran yang disengaja. Bagaimana mungkin barang senilai ratusan juta dibiarkan membusuk dan kedaluwarsa tanpa ada upaya penyelamatan aset. Ini adalah uang rakyat yang dibuang ke tong sampah,” ujar perwakilan LPKSM Kaltim.

“Kami mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan. Harus ada audit investigatif menyeluruh. Jangan sampai anggaran daerah hanya menjadi bancakan pengadaan barang yang akhirnya tidak bermanfaat bagi publik.” Tambahannya.

Di akar rumput, sentimen negatif merebak. Masyarakat melihat ketimpangan tajam antara sulitnya ekonomi warga dengan kemudahan instansi pemerintah membiarkan fasilitas bernilai miliaran rupiah terbengkalai.

Baca Juga :  Tri Adhianto dan Haris Bobihoe di HUT ke-28 Kota Bekasi Kasih Gaji Pertama ke Warga Terdampak Banjir

Seorang warga yang ditemui di sekitar fasilitas olahraga enggan memberikan komentar panjang, namun kalimatnya menyiratkan luka mendalam.

“Untuk apa saya bicara. Suara kami tidak pernah mengubah apa-apa. Di saat kami berhitung setiap rupiah untuk makan, mereka membiarkan ratusan juta hancur jadi debu di gudang. Itu bukan sekedar bahan kimia yang hancur, tapi hati kami sebagai pembayar pajak yang hancur melihat kelakuan pejabat seperti ini.”cetus warga.

Seorang warga lain bahkan menolak menjawab dengan gestur kecewa, “Tanya saja pada tembok gudang itu, mungkin mereka lebih tahu ke mana uang kami pergi.”tandasnya

Hingga berita ini diturunkan, redaksi telah berupaya melakukan konfirmasi resmi kepada pihak Dispora Kabupaten Berau untuk mengklarifikasi temuan persediaan kedaluwarsa dan lemahnya sistem pencatatan tersebut.

Baca Juga :  Diskominfostandi Kota Bekasi dan DPRD Banten Bahas Program dan Strategi Marak Judi Online

Namun, pihak dinas terkait belum memberikan tanggapan resmi atau pernyataan apa pun terkait kondisi yang menjadi temuan ini.

Publik kini menunggu keberanian pemerintah daerah dan penegak hukum untuk mengusut tuntas siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan aset yang dinilai mati suri ini.

Penulis : Hasan

Loading