Berita  

KISAH TERLUPAKAN RAJA MUDA DATU ALAM, ‘SINGA’ TERAKHIR BULUNGAN YANG MENOLAK TUNDUK

Tanjung Selor, INFOFURINNEWS.COM – Setiap tanggal 10 November, Indonesia merayakan Hari Pahlawan, momen refleksi nasional yang seringkali didominasi oleh tokoh-tokoh dari pusat kekuasaan. Namun, di pedalaman Kalimantan, tersembunyi sebuah kisah perlawanan yang nyaris dibungkam oleh arsip kolonial Belanda kisah Raja Muda Datu Alam dari Kesultanan Bulungan, seorang bangsawan dan ulama yang memilih martabat di atas kompromi.

Sejarah resmi Belanda sering mencatat para pemimpin lokal sebagai ‘pemberontak’ atau ‘pengganggu ketertiban’. Namun, pada pagi hari 8 November 1892 di Tanjung Selor, yang terjadi bukanlah pemberontakan liar, melainkan deklarasi perang atas nama kehormatan.

Raja Muda Datu Alam, dengan lantang dan tanpa ragu, mendatangi markas Belanda ditemani ratusan pengikut bersenjata Mandau.

Aksinya bukan dipicu oleh ambisi teritorial, melainkan amarah mendalam atas arogansi Kontrolir Belanda yang telah merendahkan dan menindas rakyat Bulungan.

“Ia berteriak, menantang kekuasaan asing, bukan di medan perang yang tersembunyi, tapi langsung di jantung kontrolir kolonial,” ujar seorang sejarawan lokal yang menelusuri arsip lama Bulungan. 

“Itu adalah simbol: kami tidak takut, ini tanah leluhur kami.” Tambahannya 

Ironisnya, keberanian heroik itu menjadi senjata makan tuan. Belanda, yang sejak awal berniat menguasai sumber daya alam di utara Borneo, menggunakan insiden tersebut sebagai justifikasi militer.

Baca Juga :  Lalu Lalang, Tanah Haram Menantang Hukum di Jantung Jalan Raja Alam

Hanya beberapa minggu berselang, Raja Muda Datu Alam ditangkap dan diasingkan, membuka pintu bagi eksploitasi masif di Bulungan.

Penangkapan Datu Alam bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari babak baru penindasan kolonial terhadap martabat.

Diasingkan ke Banyumas, Jawa Tengah, ia diperlakukan secara tidak manusiawi. Sebagai seorang bangsawan yang menolak tunduk, ia hanya diberi tunjangan kurang dari 15 Florin per tahun sebuah tindakan yang secara sengaja merendahkan statusnya.

Ia adalah putra dari Sultan Datu Alam Muhammad Chalifatul Adil, yang juga tewas diracun Belanda, menandai garis keturunan yang menolak bertekuk lutut.

Upaya diplomatik penerus takhta, Sultan Azimudin, untuk membebaskan Datu Alam dengan mengirim surat protes ke Batavia ditanggapi dengan penghinaan dingin: surat tersebut dikembalikan tanpa dibuka.

Baca Juga :  Forkopincam Darul Ihsan Berharap Gampong Bersinergi Bersama Insan Pers Melalui FGD

“Ini bukan hanya soal menahan tubuh, tapi juga penghancuran mentalitas kepemimpinan lokal. Belanda ingin menunjukkan bahwa protes apa pun akan diabaikan,” analisis sejarawan tersebut.

Kisah Raja Muda Datu Alam adalah cerminan dari kesenjangan narasi dalam sejarah Indonesia.

Sementara tokoh-tokoh dari Jawa dan Sumatra mendapat pengakuan global, para pejuang dari pulau-pulau luar yang perlawanannya sama brutal dan heroiknya sering terperangkap dalam catatan sejarah lokal yang samar.

Datu Alam, dengan semangat yang berakar kuat pada nilai-nilai adat dan keislaman, adalah simbol perlawanan otentik dari Borneo. Ia memilih Mandau dan kehormatan di atas kolaborasi.

Restorasi Sejarah: Menggali kembali arsip-arsip yang terpendam untuk memperjuangkan pengakuan Pahlawan Nasional bagi Datu Alam.

Warisan Kontemporer: Menjadikan semangat Datu Alam sebagai inspirasi bagi generasi muda di Kalimantan Utara untuk berani menentang ketidakadilan dan mempertahankan kedaulatan, baik dalam bentuk fisik maupun ekonomi.

Baca Juga :  Krisis Kinerja BUMD Berau: Kontribusi PAD Anjlok, DPRD Desak Audit Investigasi dan Bentuk Pansus

Narasi perjuangan Raja Muda Datu Alam mengingatkan kita bahwa bangsa yang besar tidak hanya menghargai pahlawan yang menang, tetapi juga mereka yang berani kalah demi prinsip.

“Jangan biarkan sejarahmu ditulis oleh orang lain.” Pesan itu beresonansi dari tepi Sungai Kayan, mendesak kita untuk menulis ulang babak sejarah yang hilang.

Loading