BERAU || KALTIM || INFOFURINNEWS.COM – Kemeriahan mewarnai kampung tumbit Dayak, kecamatan sambaliung, kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sedang berlangsung gelar festival budaya bekudung betiung, di balai adat rumah sunta pada hari, Sabtu (21/06/2025).
Kampung tumbit Dayak, sebuah permukiman yang sangat memegang erat ritual adat dan tradisi leluhur, bersiap menggelar perayaan akbar Hari Ulang Tahunnya yang ke-262 dengan tajuk Festival Budaya Bekudung Betiung.
Puncak acara direncanakan pada jatuh hari Kamis, 26 Juni 2025, dengan serangkaian kegiatan mulai dari ritual adat khidmat hingga festival rakyat yang meriah.
Menurut Rahayu Ramdani, sebagai Ketua Panitia Pelaksana, seluruh rangkaian kegiatan ini akan dipusatkan di Balai Adat Rumah Sunta Tumbit Dayak, kampung Tumbit Dayak.
“Insya Allah, pada malam harinya di tanggal 26/6/2025 nanti, kita akan menutup rangkaian kegiatan acara Festival Budaya Bekudung Betiung ini” ujar Rahayu Ramdani dalam wawancara.
Ia juga menyampaikan harapannya agar acara ini mendapat dukungan penuh. “Kami berharap dari pemerintah daerah, bupati, wakil bupati, ketua DPR, dan yang lainnya, dapat hadir dan mendukung penuh acara ini,” tambahnya.
Rangkaian Kegiatan Festival Budaya Bekudung Betiung Jumat, 20 Juni 2025: Penyambutan Kontingen Pukul 08.00 pagi hingga selesai,
akan dilaksanakan penyambutan tamu kontingen di Balai Adat Rumah Sunta Tumbit Dayak. Kegiatan ini menandai awal dari kemeriahan acara sebelum puncak perayaan pada 26 Juni 2025
Sabtu, 21 Juni 2025: Malam Ramah Tamah dan Diskusi Budaya Mulai pukul 20.00 hingga 22.30 WITA, akan diadakan acara ramah tamah dan diskusi Dayak Gaai Serumpun yang bertempat di Rumah Sunta Tumbit Dayak.
Selain itu, Festival Budaya Bekudung Betiung juga akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik lainnya,
di antaranya: Prosesi Bekudung: Sebuah rangkaian ritual adat yang memegang peranan penting dalam perayaan ini.
Pawai Budaya: Untuk memperingati Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak, akan ada pawai budaya yang menampilkan kekayaan tradisi desa.
Bakti Sosial: Dilaksanakan kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dan donor darah, sebagai wujud kepedulian sosial terhadap masyarakat.
Acara Bakar Lemang: Sebuah tradisi kuliner yang akan menambah semarak suasana festival. Lomba Logo Gasing: Menguji kreativitas dalam desain logo gasing tradisional.
Lomba Sumpit Putra Putri: Kompetisi yang menguji ketepatan bidikan dan ketangkasan, melestarikan salah satu keahlian berburu leluhur Dayak.
Lomba Perahu Dayung Putra dan Putri: Ajang yang menguji kekuatan fisik, stamina, dan kekompakan tim dalam mengarungi sungai, merefleksikan eratnya kehidupan masyarakat Dayak dengan perairan.
Lomba Tombak Putra dan Putri.
* Lomba Pulas Kayu Dewasa.
* Lomba Pulas Kayu Anak Putra dan Putri.
* Lomba Jlak Anak Tari Tunggal Anak: Ajang.
pengembangan bakat seni tari tradisional bagi anak-anak, Lomba Ketinting: Menguji kecepatan dan keterampilan mengemudikan perahu motor kecil.
Puncak Acara: Prosesi Betiung dan Perayaan Adat (Kamis, 26 Juni 2025) Puncak acara akan berfokus pada prosesi Betiung, sebuah ritual adat sakral yang menjadi jantung perayaan ini.
Upacara adat ini adalah bentuk syukur dan penghormatan mendalam kepada leluhur serta bumi yang telah memberikan kehidupan. Prosesi direncanakan akan dimulai tepat Waktu Pembukaan Ritual pada 26 Juni tahun 2025
dengan lantunan doa dan tetabuhan musik tradisional khas Tumbit Dayak seperti gandang, salung, dan sampe yang akan mengiringi langkah para pemangku adat.
Udara akan dipenuhi aroma kemenyan dan persembahan yang disiapkan dengan cermat.
Selain itu, kemeriahan puncak acara juga akan diisi dengan: Panjat Piruai: Salah satu tradisi unik yang akan menyemarakkan suasana.
Kuliner Nusantara: Berbagai hidangan tradisional dari seluruh Nusantara akan tersedia, memanjakan lidah para pengunjung.
Tari-tarian Persembahan: Berbagai pertunjukan tari sakral dan hiburan akan ditampilkan oleh penari-penari pilihan.
Menyaksikan Pembuatan IBus: Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatan IBus, sebuah,” makanan / minuman / kerajinan khas Dayak.
Puncak acara akan melibatkan: Ritual Pemberkatan Tanah dan Air (Pangkur Sakti Bumi Banyu: Acara akan dibuka dengan ritual Pangkur Sakti Bumi Banyu yang dipimpin oleh Kepala Adat Kampung Tumbit Dayak, Muksin Paheb.
Melalui persembahan sesajen beras kuning, telur, ayam putih, para tetua akan memanjatkan doa kepada Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) serta roh-roh penjaga alam, memohon keberkahan, kesuburan tanah, dan perlindungan dari segala mara bahaya bagi desa dan warganya.
Beliau akan menekankan pentingnya menjaga “Hukum Adat dan Falsafah Huma Betang”, sebagai pilar kerukunan dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Refleksi Pembangunan oleh Kepala Kampung, Ahmad Jamlan kemudian akan menyampaikan refleksi atas capaian pembangunan Kampung, sembari menegaskan komitmen pemerintah Kampung untuk bersinergi dengan lembaga adat dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian tradisi.
Ritual Inti: Mandi Suci (Tiwah Jati Diri): Puncak acara akan ditandai dengan ritual Tiwah Jati Diri, di mana setiap perwakilan keluarga menerima percikan air suci dari Tempayan Pusaka / menyentuh batu leluhur.
Prosesi ini melambangkan pembersihan diri, pembaruan semangat, serta penguatan ikatan batin dengan warisan spiritual leluhur.
Persembahan Seni Sakral: Suasana khidmat akan semakin terasa dengan penampilan Tarian Manasai / Kinyah Mandau yang akan dibawakan oleh penari-penari pilihan.
Penutupan Festival dan Pembagian Hadiah (Malam 26 Juni 2025) Seluruh rangkaian kegiatan Festival Budaya Bekudung Betiung ini akan mencapai puncaknya pada malam hari Kamis, 26 Juni 2025.
Acara penutupan akan dimeriahkan dengan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba Jiak bersama, sebagai apresiasi atas partisipasi dan semangat kompetisi.
Seluruh kegiatan penutupan ini akan berlangsung di Rumah Sunta Tumbit Dayak, di mana para hadirin juga akan menikmati santap bersama hidangan tradisional, mempererat tali silaturahmi.
Peringatan ulang tahun Desa Tumbit dayak melalui upacara adat dan beragam kegiatan ini bukan hanya selebrasi tahunan, melainkan sebuah pengingat abadi akan akar budaya yang kuat, serta penegasan komitmen untuk terus melangkah maju dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. (Samsul Riyadi)
![]()












