Perkuat Pangan Nasional, Menko Zulkifli Hasan Umumkan Rekrutmen 35.476 SDM Kopdes.

Jakarta, infofurinnews.com – Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan pembukaan rekrutmen besar-besaran sebanyak 35.476 formasi pekerjaan guna mendukung penguatan ekonomi akar rumput melalui program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih dan Kampung Nelayan.

Langkah ini menandai upaya ambisius pemerintah dalam mengintegrasikan manajemen profesional ke dalam sektor pangan nasional.

Seluruh kandidat yang berhasil lolos seleksi akan menyandang status sebagai Pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Rekrutmen ini menggunakan skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), yang dirancang untuk memastikan fleksibilitas dan efisiensi dalam pelaksanaan program kerja nasional.

Baca Juga :  Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri OrangSetelah mengulas Herry IP, Naga Api, pelatih kita yang sukses mengantarkan ganda Malaysia meraih gelar badminton, sekarang giliran Dr. Warsito Purwo Taruno. Nasibnya mirip, tapi beda bidang. Dr Warsito ditolak di negeri sendiri, malah sangat dihargai di negeri orang. Mari kita dalami kisah penemu Electrical Capacitive Cancer Therapy (ECCT), alat penghancur sel kanker. Siapkan kopi dan gorengan tela-tela wak. Di sebuah negeri bernama Indonesia, seorang ilmuwan bernama Dr. Warsito Purwo Taruno menyalakan lentera harapan di lorong tergelap dunia medis. Ia bukan siapa-siapa ketika lahir di Surakarta, 15 Mei 1967. Namun, dari tanah sederhana itu, tumbuh seorang anak yang kelak akan menjadi pelopor teknologi terapi kanker berbasis medan listrik, teknologi yang mengundang decak kagum dunia, namun malah ditolak oleh bangsanya sendiri. Pendidikannya bermula dari SMA Negeri 1 Karanganyar. Ia melanjutkan ke Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, sebelum mendapat beasiswa ke Jepang dan menuntaskan pendidikan hingga doktoral di Shizuoka University. Bukan hanya lulus, ia menjadi pelopor teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), sebuah alat tomografi 4 dimensi yang kemudian digunakan oleh NASA dan perusahaan raksasa seperti Exxon Mobil dan Shell. Warsito tak sekadar belajar, ia mencipta. Namun pencapaian terbesarnya muncul bukan di ruang kuliah atau laboratorium kampus, tapi saat sang adik tercinta divonis kanker payudara stadium akhir. Rumah sakit angkat tangan. Tapi Warsito menolak tunduk. Ia kembali ke laboratorium, menciptakan Electrical Capacitive Cancer Therapy (ECCT), sebuah terapi revolusioner yang menggunakan medan listrik statis untuk menghancurkan sel kanker tanpa operasi, tanpa kemoterapi, tanpa radiasi. Dari eksperimen untuk menyelamatkan adiknya, lahirlah sebuah teknologi yang menyelamatkan ribuan orang. CTech Labs Edwar Technology pun didirikan. Di sinilah ECCT berkembang, menarik perhatian pasien dari seluruh Indonesia. Tapi apa balasan dari tanah airnya? Pada 2015, Kementerian Kesehatan menutup kliniknya dan menghentikan izinnya atas alasan regulasi. Sebuah surat datang, bukan sebagai ucapan terima kasih, melainkan larangan untuk melanjutkan riset. Warsito disudutkan, bukan karena salah, tapi karena melangkah terlalu cepat untuk birokrasi yang lamban. Namun seperti air yang tak bisa dibendung, Warsito membawa ECCT ke Warsawa, Polandia. Kota tempat Marie Curie dulu menaklukkan radioaktif. Di sana, teknologi ini disambut dengan tangan terbuka. Pelatihan internasional dimulai. Negara-negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Singapura tertarik mengembangkan teknologi ini. Dunia menyambutnya dengan hormat, saat Indonesia bahkan enggan memberi ruang. Meski ditolak di negeri sendiri, Warsito tak pernah membenci. Ia terus meneliti, mengajar, mengembangkan teknologi, dan menyelamatkan nyawa. Lebih dari sepuluh paten internasional dikantonginya. Ia telah menerbitkan lebih dari 150 artikel ilmiah. Ia menerima Achmad Bakrie Award pada 2009 dan BJ Habibie Technology Award pada 2015. Tapi di luar semua itu, penghargaan sejatinya adalah senyum para pasien kanker yang sembuh, bukan karena takdir, tapi karena tekad satu manusia yang enggan menyerah. Kisah Warsito bukan sekadar tentang teknologi. Ini adalah kisah perjuangan. Tentang seorang ilmuwan yang dicintai dunia namun disisihkan oleh bangsanya. Tentang bagaimana negeri ini kerap menolak cahaya dari anak-anaknya sendiri, lalu memujanya setelah dunia lebih dulu berlutut. Apakah bangsa ini hanya akan terus menjadi pengusir diam-diam para jeniusnya? Apakah kita hanya akan memberi tempat bagi penghafal kebijakan, tapi tidak pada pencipta harapan? Warsito telah memberi contoh bahwa cinta pada negeri tidak harus menunggu pengakuan. Tapi sampai kapan negeri ini terus menutup pintu pada cahaya yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa? Jika Warsito bukan pahlawan, maka kita patut bertanya kembali: siapa sesungguhnya pahlawan dalam dunia yang sesak oleh birokrasi tapi hampa keberpihakan? "Jika ilmu untuk menyelamatkan nyawa dianggap melanggar aturan, maka biarlah dunia menjadi saksi bahwa aku pernah mencoba." Begitu kira-kira pesan diam Dr. Warsito. Sebuah pesan yang tak akan lekang oleh waktu.(*)

Proses seleksi akan berlangsung dalam jendela waktu yang cukup singkat. Calon pelamar diharapkan memperhatikan lini masa berikut. Pembukaan Pendaftaran, Rabu, 15 April 2026. Penutupan Tahap Pertama, Jumat, 24 April 2026.

Program ini dikelola di bawah payung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Fokus utamanya adalah transformasi pengelolaan koperasi di tingkat desa dan kampung nelayan agar lebih kompetitif dan transparan.

“Program ini sekarang sudah memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Panitia Seleksi Nasional SDM PHTC membuka kesempatan bagi putra-putri terbaik bangsa untuk terlibat langsung dalam pengelolaan Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/4).

Baca Juga :  Denda 80 Tempayan per Hektar, Masyarakat Dayak Biatan Ulu Pagari Hutan Adat Ilas Kuning dari Perambah

Langkah penempatan tenaga kerja berstatus BUMN hingga ke tingkat desa dipandang sebagai strategi pemerintah untuk mempercepat distribusi logistik pangan dan memotong rantai pasok yang tidak efisien.

Dengan melibatkan tenaga perfesional muda, pemerintah berharap Koperasi Desa tidak lagi dipandang sebagai entitas tradisional, melainkan motor penggerak ekonomi modern yang mampu menjaga stabilitas pangan nasional.

Penulis : Hasan

Loading