Berau, infofurinnews.com – Arus aktivitas ekonomi warga dan petani di Kampung Inaran, Kecamatan Sambaliung, kini berada di titik nadir. Penumpukan material kayu (log) di bawah jembatan operasional PT Berau Coal di wilayah Blok 7 dilaporkan telah menyumbat akses vital, memicu kemarahan publik, dan mengancam mata pencaharian masyarakat lokal.
Penyumbatan ini bukan sekedar kendala teknis, melainkan hambatan serius bagi mobilitas harian warga yang bergantung pada jalur tersebut untuk mengangkut hasil tani dan melintas menuju lokasi kerja.
Keresahan warga mencapai puncaknya hari ini. Samsul, salah satu tokoh warga Kampung Inaran, menyampaikan kritik tajam terhadap lambatnya respons perusahaan dalam menangani tumpukan kayu yang kian menggunung di tiang penyangga jembatan tersebut.
“Kami tidak butuh janji atau sekedar peninjauan lapangan. Yang kami butuhkan adalah tindakan nyata. Tumpukan kayu di jembatan Blok 7 itu sudah seperti tembok yang mengunci urat nadi ekonomi kami,” tegas Samsul dengan nada keras saat ditemui di lokasi,” tegas samsul
“Setiap hari kami harus bertaruh waktu dan tenaga hanya untuk bisa lewat mencari nafkah. PT Berau Coal harus sadar bahwa kehadiran infrastruktur mereka jangan sampai justru menjadi beban dan penghambat bagi kemakmuran rakyat kecil. Kami menuntut pembersihan segera, sebelum kesabaran warga benar-benar habis.”tambahannya samsul
Berdasarkan investigasi di lapangan, tumpukan kayu tersebut diduga berasal dari hanyutan arus sungai yang tersangkut di konstruksi jembatan. Dampak dari pembiaran ini meliputi.
Petani kesulitan membawa hasil panen ke tani, yang berisiko menurunkan kualitas komoditas dan pendapatan.
Tekanan beban kayu pada tiang jembatan dikhawatirkan dapat merusak struktur konstruksi jika tidak segera dievakuasi.
Terganggunya mobilitas warga memicu kenaikan biaya angkut dan waktu tempuh yang tidak efisien.
Warga Inaran mendesak PT Berau Coal untuk segera mengerahkan alat berat guna membersihkan sumbatan tersebut secara menyeluruh.
Selain itu, masyarakat menuntut adanya sistem mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Ketidakpastian menyelimuti warga yang masih menunggu realisasi pembersihan dari manajemen PT BC. Sayangnya, upaya konfirmasi yang dilakukan awak media belum membuahkan hasil lantaran pihak perusahaan masih memilih untuk bungkam.
Penulis : hasan
![]()












