Samarinda, infofurinnews.com – Sebuah kisah memilukan datang dari Samarinda, Kalimantan Timur. Mandala Rizky Syaputra, seorang pelajar SMK berusia 16 tahun, dilaporkan meninggal dunia setelah berjuang melawan komplikasi kesehatan yang diduga dipicu oleh hal yang sangat mendasar, sepasang sepatu sekolah yang tidak lagi muat di kakinya.
Peristiwa ini bukan sekedar berita duka, melainkan sebuah potret kelam mengenai kemiskinan ekstrem yang memaksa seorang remaja mengorbankan kesehatan fisik demi menuntut ilmu dan memenuhi tanggung jawab akademisnya.
Berdasarkan investigasi dari Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur, Mandala adalah seorang anak yatim yang hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.
Ibunya, Ratnasari, berjuang menghidupi lima orang anak dengan bekerja sebagai penjual risoles keliling.
Sejak memasuki kelas 1 SMK, Mandala mengenakan sepatu ukuran 43. Namun, seiring pertumbuhan fisiknya di kelas 2, ukuran kakinya bertambah menjadi 45. Karena tidak adanya biaya untuk membeli sepatu baru, Mandala terpaksa memodifikasi sepatu lamanya.
“Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Ia mengganjalnya dengan busa (foam) agar tidak terlalu keras, namun tindakan ini justru memicu pembengkakan hebat pada kakinya,” ungkap Rina Zainun, Ketua TRC PPA Kaltim, saat memberikan keterangan pada Minggu (3/5/2026).
Kondisi kesehatan Mandala mencapai titik kritis saat ia menjalani program magang di sebuah pusat perbelanjaan.
Tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya berdiri dalam durasi lama memperparah peradangan pada kakinya.
Selama satu bulan penuh, Mandala tetap memaksakan diri bekerja meski rasa nyeri mulai menjalar dari kaki hingga ke pinggang dan kepalanya.
Sang ibu, Ratnasari, mengenang bagaimana putranya berusaha tegar meski rasa sakit tersebut semakin tidak tertahankan.
“Awalnya hanya keluhan ringan. Namun setelah 20 hari, bagian atas kakinya mulai membesar secara drastis,” tutur Ratnasari dengan nada pilu.
Meski kondisinya kian memburuk, Mandala tetap menunjukkan dedikasi tinggi dengan terus mengikuti aktivitas magang dan hanya beristirahat saat jam jeda tiba. Keluhan sakit biasanya baru ia utarakan sesampainya di rumah.
Satu hari sebelum menghembuskan napas terakhir, kondisi Mandala dilaporkan merosot tajam dengan pembengkakan yang sangat parah.
Meski sempat dibawa ke klinik setempat dan mendapatkan penanganan medis berupa suntikan, nyawa remaja ini tidak tertolong.
Kasus Mandala memicu diskusi publik mengenai pentingnya jaring pengaman sosial bagi siswa dari keluarga tidak mampu.
Kematian tragis yang berawal dari masalah sepatu kekecilan ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah dan masyarakat bahwa masih banyak anak bangsa yang harus bertaruh nyawa hanya untuk bisa bersekolah dengan layak.
Hingga saat ini, pihak TRC PPA terus mendampingi keluarga korban untuk memberikan dukungan moral dan menelusuri lebih dalam kronologi medis yang menyebabkan kepergian Mandala Rizky Syaputra.
Penulis : joko
![]()












