Gebrakan Bersejarah dari Berau, PYM Datu Amir Ajak Seluruh Sultan Nusantara Bersatu Padu

Berau, Infofurinnews.com – Dalam upaya menjaga kelestarian warisan leluhur di tengah arus modernisasi, Yang Mulia (PYM) Datu Amir MA, Raja Muda Perkasa. Sultan Sambaliung, Kabupaten Berau, mengeluarkan seruan bersejarah bagi seluruh pemangku adat di Indonesia. Beliau mengajak seluruh raja, sultan, dan datu di Se-Nusantara untuk bersatu padu membangkitkan dan memperkokoh kembali adat istiadat institusi kerajaan.

Pernyataan sikap ini ditegaskan langsung oleh PYM Datu Amir MA di hadapan awak media pada Rabu (10/6/2026). Langkah ini dipandang sebagai momentum krusial bagi penguatan identitas kultural bangsa Indonesia yang majemuk.

Dalam penyampaian resminya, PYM Datu Amir MA. Sultan Sambaliung menekankan bahwa eksistensi kerajaan kultural bukanlah bentuk dualisme kekuasaan, melainkan pilar pendukung moral dan budaya yang harus berjalan beriringan dengan pemerintah Republik Indonesia.

Baca Juga :  DPD PJI Kaltim Audiensi Bersama Kapolda Irjen Pol Endar Priantoro, Perkuat Sinergi Media dan Kepolisian

“Hari ini, Rabu 10 Juni 2026, saya sebagai Raja Muda Perkasa, Sultan Sambaliung, Kabupaten Berau, mengumumkan dan menyerukan kepada seluruh Yang Mulia para raja, sultan, dan pemangku adat se-Nusantara. Marilah kita mempererat kembali tali silaturahmi dan memperkokoh adat istiadat kerajaan di wilayah masing-masing. Adat istiadat ini adalah akar sejarah bangsa. Kita harus memegang teguh, menjaga, dan merawatnya dengan prinsip yang kokoh agar tidak goyang oleh roda zaman. Mari kita buktikan bahwa institusi adat mampu berdiri tegak, mandiri, dan berwibawa, menjadi mitra strategis bersama aparat Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga kedaulatan moral dan budaya bangsa.” Ungkapnya

Baca Juga :  Resmikan Jembatan Merah Putih, Kapolres Berau Wujudkan Mimpi Warga Gunung Tabur Akan Akses Aman

Pernyataan yang disampaikan oleh Sultan Sambaliung tersebut menggarisbawahi pentingnya posisi lembaga adat yang independen namun tetap sinergis.

Konteks tidak goyang sama dengan aparat pemerintah diterjemahkan sebagai dorongan agar lembaga adat memiliki posisi tawar, integritas, dan kekuatan internal yang setara dalam menjaga ketertiban sosial serta moral masyarakat, tanpa harus tergerus oleh birokrasi politik.

Pengamat budaya menilai, seruan dari Sultanan Sambaliung ini dapat menjadi katalisator bagi terbentuknya konsolidasi akbar para tokoh adat nasional dalam waktu dekat.

Baca Juga :  AUDIT BPK UNGKAP KEKACAUAN FINANSIAL, Belanja Rp8,8 Miliar di 12 Kecamatan Kutai Timur TANPA BUKTI SAH

Penulis : Hasan

Loading